By: Hasna Aqilah Azzahro

Flexing merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang sering digunakan di media sosial dan dalam kehidupan sehari-hari. Secara sederhana, flexing dapat diartikan sebagai tindakan pamer atau menunjukkan sesuatu yang dimiliki seseorang seperti memamerkan harta, gaya hidup, pencapaian, prestasi, atau barang-barang mewah.

Tidak hanya di media sosial, tetapi flexing juga terjadi di kehidupan nyata. Contohnya seseorang mengajak temannya untuk makan di restoran mewah, hal itu menunjukkan bahwa dia mampu membayar di restoran tersebut. Banyak hal yang mendasari tindakan flexing seperti pencarian pengakuan dari orang lain, banyak orang merasa perlu diberi pujian atau mendapat pengakuan dari orang lain.

Lalu dapat didasari dengan tekanan sosial dan adanya rasa rendah diri, seperti munculnya rasa selalu tidak cukup atau rendah diri memicu seseorang untuk memamerkan apa yang ia miliki agar setara atau lebih unggul dari orang lain. Kemudian, karena dampak budaya influencer, tren influencer atau orang-orang kaya yang sering memamerkan isi saldo ATM, kendaraan mewah, dan liburan mahal, membuat tindakan ini dianggap lumrah dan mudah ditiru.

Banyak faktor yang menunjukkan dampak dari flexing seperti, dampak dari segi keuangan, banyak orang mendapat dorongan untuk selalu tampak mewah dan memaksa seseorang hidup bahkan menguras tabungan atau bahkan rela meminjam di pinjaman online. Padahal dalam peminjaman online jika kita tidak mampu untuk melunasi, kita akan selalu merasa terbebani.

Lalu dampak dari segi kesehatan mental, melihat flexing membuat orang lain merasa hidupnya kurang cukup, flexing juga dapat menimbulkan kecemasan dan depresi karena mendapat tekanan untuk mempertahankan pencitraan mewah dapat memicu stres, kecemasan sosial.

Lalu dampak sosial dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan flexing yang berlebihan dapat membuat pelaku dianggap kurang empati dan sulit membangun relasi sosial yang tulus. Dan memamerkan harta dapat meningkatkan risiko menjadi target kejahatan maupun penyalahgunaan data pribadi.

Flexing di media sosial sebenarnya tidak bisa disalahkan secara mutlak, karena bergantung pada niat seseorang. Ada orang yang membagikan pencapaian atau keahliannya untuk memotivasi orang lain agar semangat meraih keinginannya. Namun, ada juga yang melakukannya hanya untuk pamer.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana Islam memandang flexing dalam kehidupan sehari-hari. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana, tidak berlebihan, dan selalu bersyukur. Flexing di media sosial sering kali bertentangan dengan ajaran tersebut karena dapat menimbulkan sikap bermegah-megahan.

Flexing juga dapat menjadi bentuk kelalaian karena membuat seseorang lupa bahwa segala kekayaan hanyalah titipan dari Allah SWT. Hal ini bertentangan dengan sikap rendah hati yang diajarkan dalam Islam. Islam juga melarang sikap membanggakan diri karena dapat memengaruhi niat seseorang.

Islam mengajarkan kita untuk bersikap zuhud, tidak terikat pada kemewahan dunia, serta senantiasa bersyukur sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Kita juga harus mengetahui sikap yang baik dalam menghadapi maraknya flexing di media sosial. Kita tidak perlu terlalu menghiraukannya, melainkan tetap bersyukur dan fokus pada pencapaian yang kita miliki.

Dengan menanamkan rasa syukur, kita tidak akan mudah merasa rendah diri. Jangan sampai kita terjebak dalam keinginan untuk menyaingi orang lain, karena setiap orang memiliki perjuangan yang berbeda-beda. Jika konten seperti itu terlalu sering muncul dan berdampak buruk bagi diri kita, maka kita dianjurkan untuk menghindari akun tersebut.

Kesimpulan yang dapat diambil dari fenomena flexing adalah kita harus menggunakan apa yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Flexing perlu dihindari karena dapat menimbulkan rasa iri, dengki, dan dampak negatif lainnya. Berdasarkan hal tersebut, Islam mengajarkan kita untuk selalu menanamkan rasa syukur, hidup sederhana, menjaga niat, serta bijak dalam menggunakan media sosial. Oleh karena itu, setiap pengguna media sosial perlu berhati-hati dalam mengunggah postingan dan berusaha membagikan hal-hal yang dapat memotivasi serta menghindari dampak negatif dari perbandingan sosial.

One comment on “Berlomba Menjadi Paling Bahagia di Layar Kaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *