By: Abipasya Satya Maulana

Biarkan kalimat-kalimat ini menggantung. Seperti kabel yang putus di tengah hujan.

Kita sering kali terobsesi untuk menambal setiap lubang. Mencari plester untuk setiap luka. Mencari jawaban untuk setiap “Kenapa saya?” Namun, bukankah ada keindahan yang ganjil dalam sebuah pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab?

Bayangkan sebuah ruangan yang gelap total. Kamu tidak tahu di mana pintu, di mana dinding, atau apakah ada jurang di depan kakimu. Biasanya, insting kita adalah berteriak atau meraba-raba mencari sakelar lampu. Namun, bagaimana jika kita hanya… diam? Merasakan dinginnya lantai. Mendengarkan detak jantung sendiri yang berpacu.

Ketidakpastian itu bukan teka-teki yang harus dipecahkan. Dia adalah ruang. Ruang kosong yang luas.

Saat seseorang jatuh, semua orang bergegas mendekat dan berkata, “Bangun, ini belum berakhir,” atau “Semua akan baik-baik saja.” Kalimat-kalimat itu terkadang terasa seperti kebisingan yang tidak perlu. Terkadang, jatuh adalah satu-satunya cara untuk merasakan gravitasi secara utuh. Merasakan beratnya tubuh, dinginnya tanah, dan fakta bahwa semesta tidak berhenti berputar hanya karena kita tersungkur.

(Ada detak jam di dinding. Detik yang hilang. Ke mana perginya waktu yang sudah lewat? Tidak ada yang tahu.)

Kita adalah makhluk yang dirancang untuk mencari pola. Kita melihat awan dan melihat bentuk wajah. Kita melihat kegagalan dan mencoba mencari “hikmah”. Namun, bagaimana jika keberantakan ini memang tidak memiliki pola? Bagaimana jika jatuh itu ya hanya jatuh? Tanpa alasan. Tanpa skenario besar.

Hanya kamu, keheningan, dan ruang kosong yang menolak untuk diisi.

            Membiarkan diri berada di titik itu—di antara yang sudah hilang dan yang belum datang—adalah hal yang paling melelahkan. Tidak ada pegangan. Hanya ada rasa melayang yang tidak nyaman.

Mungkin, makna yang sebenarnya bukan terletak pada saat kita berhasil keluar dari kegelapan itu, tetapi pada kesediaan kita untuk tetap tinggal di sana sebentar lagi. Tanpa senter. Tanpa peta. Tanpa janji bahwa esok akan lebih terang.

Hanya ada kamu. Dan ketidakpastian yang menatapmu balik.

Tetaplah di sana. Jangan buru-buru menyalakan lampu. Biarkan matamu terbiasa dengan gelapnya

One comment on “Jangan Buru-buru Menyalakan Lampu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *